WORLD CUP 2014 : SPANYOL MALANG, INGGRIS MELAYANG (BAG. 2)

Liga Inggris dan Liga Spanyol adalah dua liga terbaik di dunia saat ini, namun ternyata pada gelaran Piala Dunia 2014 kali ini status sebagai liga terbaik di dunia bukanlah menjadi jaminan bagi Inggris dan Spanyol akan melaju dengan mulus.
Spanyol dan Inggris langsung terdepak padahal baru dua pertandingan yang dijalani. Spanyol yang malang mencatatkan rekor sebagai juara bertahan yang paling cepat tersingkir dari Piala Dunia memecahkan rekor sebelumnya yang dipegang Prancis 2002 dan Italia 2010. Prancis dan Italia tersingkir setelah menjalani 3 pertandingan. Sementara itu dengan hanya dua pertandingan, impian Inggris yang sudah terpendam selama 48 tahun pun melayang tanpa arti. Bagaimanakah sebenarnya sepakbola Spanyol dan Inggris itu ? (Baca : Bagian Pertama)

INGGRIS

Inggris adalah sebuah negara yang sangat melekat dengan sepakbola. Yunani mungkin adalah sebagai penemu olahraga sepakbola kuno maka Inggris adalah penemu olahraga sepakbola modern. Sepakbola modern dikembangkan dari sepakbola kuno dengan membuat aturan (rule) oleh orang-orang Inggris.

Dalam perkembangan sepakbola tentu Inggris menjadi negara terdepan dengan mendirikan Football Association (FA) dan menjadi organisasi sepakbola tertua di dunia. Turnamen yang digelar FA juga menjadi turnamen tertua di dunia. Inggris dikenal dengan gaya permainan “kick and rush” dan perkembangan sepakbola Inggris selalu berdampingan dengan berkembangnya pendukung-pendukung fanatik yang dikenal dengan “Hooligan.”

Walaupun Inggris sebagai pengembang sepakbola modern ternyata Inggris tidaklah selalu menguasai turnamen-turnamen tingkat eropa dan dunia. Inggris tercatat hanya sekali menjuarai turnamen besar yaitu Piala Dunia 1966 sedangkan Piala Eropa belum sekalipun mampu mereka raih. Berbang terbalik dengan klub-klubnya yang tampil lebih memukau di turnamen antarklub. Klub Inggris tercatat 12 kali meraih Liga/Piala Champions, 7 kali UEFA/Liga Eropa dan 8 kali juara Piala Winners. Klub-klub Liga Inggris (Liverpool, Nottingham Forest dan Aston Villa) pernah mendominasi dengan menjuarai secara berturut-turut Liga/Piala Champions dari tahun 1977 s/d 1984, hanya diselingi Hamburg tahun 1983 dan itupun dengan mengandalkan bintang Inggris Kevin Keegan.

Pada tahun 1985 kita mengingat Tragedi Heysel yang melibatkan Liverpool yang berakibat klub-klub Inggris dilarang tampil di semua turnemen antarklub Eropa selama lima tahun. Pada saat bersamaan industrialisasi sepakbola di Italia sedang dimulai sehingga persepakbolaan Italia lebih dilirik daripada persepakbolan Inggris apalagi Italia dipercaya kembali menjadi tuan rumah Piala Dunia 1990. Selepas Piala Dunia 1990, klub-klub Inggris sudah diperbolehkan kembali berlaga di kompetisi Eropa dan tidak menunggu lama, Manchester United langsung menjadi juara Piala Winners di tahun 1991. Seiring dengan perkembangan sepakbola, format Liga Inggris juga turut diubah pada tahun 1992. Promisi besar-besaran membuat Liga Inggris semakin dilirik lagi oleh para investor dan penggemar sepakbola.

Keberhasilan Manchester United menjuara Liga Champions tahun 1999 turut menaikkan nilai tawar Liga Inggris. Klub-klub mulai menjual sahamnya ke bursa sehingga membuka kesempatan luas bagi para investor kelas kakap  di seluruh dunia untuk memiliki klub di Inggris. Kedatangan Abramovich, Syech Mansoor, Thaksin Sinawatra dan lain-lain menjadikan klub-klub Inggris seakan memiliki dana tak terbatas untuk mendatangkan pemain-pemain kelas dunia dan jadilah Liga Inggris menjadi Liga termahal di dunia di abad ke 21 ini. 

Menjadi liga termahal ternyata berbanding terbalik dengan perkembangan tim nasional Inggris. Kedatangan bintang sepakbola kelas dunia ternyata menggusur potensi-potensi pemain sepakbola Inggris sehingga regenerasi yang dilakukan klub tidak efektif karena pemain muda hanya dijadikan pemain kelas dua. Hasil teranyar dapat kita lihat dari Piala Dunia yang sedang berlangsung di Brazil saat ini. Inggris langsung tersisih setelah dua kekalahan dari Italia dan Uruguay. Mimpi rakyat Inggris yang sudah terpendam selama hampir 50 tahun pun melayang.

Setelah dianalisis ternyata ada beberapa sebab yang menyebabkan Inggris langsung tersisih di babak grup di Piala Dunia kali ini, yaitu :

  1. Pemain asli Inggris kalah bersaing dengan pemain asing di Liga Inggris sehingga mental bertanding kelihatan sangat kurang apalagi setelah kebobolan terlebih dahulu.
  2. Roy Hodgson tidak mampu memanfaatkan potensi pemain Inggris yang memiliki kecepatan dan stamina yang prima dan malah mudah terpengaruh pada permainan lawan terutama saat melawan Italia.
  3. Inggris hanya bermain dengan satu penyerang sehingga kurang mengigit dalam penyerangan ditambah lagi minimnya pemain tengah Inggris yang bertype pengumpan atau pemberi bola.
  4. Sebagian besar pemain Inggris yang dibawa ke Brazil minim pengalaman mengikuti turnamen besar seperti Piala Dunia atau Piala Eropa.

Namun bukan berarti ke masa depan Inggris tidak akan dapat berkembang, tentunya hasil di Brazil ini akan menjadi pelajaran bagi FA. Roy Hodgson masih layak dipertahankan karena dia ini pelatih bagus. Kalau kita lihat dari kualitas pemain Inggris, rata-rata umurnya masih muda dan jika mereka yang muda ini diberikan lebih banyak kesempatan bukan tidak mungkin 4-5 tahun ke depan kualitas mereka jauh lebih baik. FA juga seharusnya mulai membuat kebijakan tentang perlunya penggunaan pemain lokal dalam berkompetisi di Liga Inggris. Para penggemar sepakbola di dunia sangat berharap agar Inggris bisa menjadi tim yang layak untuk dilihat dan dinikmati permainannya.

by.
Riza Lubis


One thought on “WORLD CUP 2014 : SPANYOL MALANG, INGGRIS MELAYANG (BAG. 2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *