WILLEM ISKANDER : BAPAK PENDIDIKAN MANDAILING

Sati Nasution lahir pada bulan Maret 1840 di Pidoli Lombang, Panyabungan. Ayahnya Raja Tinating (Raja Pidoli Lombang) dan ibunya Anggur boru Lubis (Rao-rao). Pada 1853, Sati masuk sekolah rendah yang didirikan Alexander Philippus Godon (Asisten Residen Mandailing Angkola) di Panyabungan. Pada 1855, Sati lulus dan diangkat menjadi guru di sekolah tersebut. Sati telah menjadi guru saat usianya baru menginjak 15 tahun.

Di saat yang sama, Godon mengangkat Sati menjadi juru tulis bumi putera di kantor Asisten Residen Mandailing Angkola di Panyabungan. Selama dua tahun  Sati menjadi juru tulis sampai pada Februari 1857 Sati berangkat ke negeri Belanda bersama Godon. Pada 1858, Sati masuk agama Kristen di Arnhem, Belanda dan nama Willem Iskander diberikan kepadanya yang terus dipakainya pada karya-karyanya.

Willem Iskander mulai belajar di Oefenschool – Amsterdam pada 1859 dan mendapatkan ijazah guru bantu dua tahun kemudian. Dia kembali ke tanah air dan sampai di Batavia pada Desember 1861. Dia mengutarakan niatnya kepada Gubernur Jenderal Hindia-Belanda saat itu untuk membuka sekolah guru (Kweekschool) di Mandailing. Berbekal surat dari Gubernur Jenderal, Willem Iskander mendirikan sekolah guru di Tanobato – Panyabungan pada 1862.

Dalam usia 22 tahun, Willem Iskander melakukan terobosan besar gerakan pencerahan (Aufklarung) melalui pendidikan di Mandailing Angkola, khususnya di Mandailing. Orientasi, cakrawala, penalaran, idealisme, kearifan dan semangat pembaharuan telah membekali Willem Iskander untuk melakukan gerakan pencerahan di Tapanuli. (ref : Basyral Hamidy Harahap)

Di awal berdirinya kweekschool ini sangat jarang ada yang mau menjadi muridnya, namun dengan ketekunan, kegigihan dan kesabarannya maka lambat laun kelangkaan murid pun dapat diatasinya. Baru setahun Gubernur Belanda dari Padang menyampaikan kekagumannya kepada Willem Iskander yang disebutnya dengan cerdik, tekun dan rajin.

Setelah empat tahun, Inspektur Pendidikan Bumiputera, Van der Chjis, menyaksikan langsung penyelenggaraan pendidikan di kweekschool Tanobato ini. Ia sangat mengagumi kemampuan murid-murid Willem Iskander yang mampu menguasai dengan baik ilmu matematika, bahasa Melayu dan bahasa Mandailing.

Atas kepiawaian Willem Iskander dalam mengelola kweekschool ini, namanya pun harum semerbak di kalangan para pejabat-pejabat Belanda saat itu. Apalagi Willem Iskander memiliki gagasan brilian untuk pembaruan sekolah guru bumiputera, yaitu :

  1. Sekolah guru harus menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan;
  2. Guru harus mampu menulis buku pelajaran;
  3. Bahasa daerah harus dikembangkan sesuai dengan kaidah bahasa.

Atas gagasan-gagasannya itu, pada 1874 Willem Iskander pun mendapatkan kesempatan untuk kembali ke Belanda bersama dengan tiga temannya yaitu Banas Lubis, RM Surono dan Ardi Sasmita. Namun pada 1875, ketiga temannya itu meninggal dunia di Belanda, sehingga Willem Iskander saat itu sangat merasa ditimpa kesedihan. Atas nasehat Godon yang menyarankan agar dia menikah maka diturutinyalah nasehat Godon itu. Willem Iskander pu menikah dengan wanita Belanda bernama Maria Christina Jacoba Winter pada Januari 1876.

Pada tanggal 8 Mei 1876, Willem Iskander pun meninggal dunia dan dimakamkan di Zorgvlied Begraafplaats – Amsterdam. Akhirnya sang Bapak Pendidikan Mandailing ini tidak berumur panjang namun sumbangsihnya bagi kemajuan pribumi di Mandailing sangat tak ternilai harganya yang dia kembangkan melalui kweekschool di Tanobato. Sebagai catatan, Kweekschool Tanobato ini sempat tiga kali dikujungi oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Dr. Daoed Joesoef.

oleh.
Riza Lubis


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *