SYEKH H. MUSTHAFA HUSEIN : PENDIRI NAHDLATUL ULAMA (NU) DI SUMATERA UTARA

Syekh Musthafa Husein lahir di Tanobato, Kayu Laut pada tahun 1886 M/1303 H dengan nama kecil Muhammad Yatim dari pasangan H. Husein Nasution dan Hj. Halimah. Ayahnya seorang saudagar yang taat beragama. Keadaan masyarakat di Tanobato saat itu sangat menyedihkan akibat perlakuan penjajah Belanda yang memberlakukan sistem tanam paksa bagi para petani.

Di usia tujuh tahun, Syekh Musthafa bersekolah di Sekolah Dua, Kayu Laut. Setelah lima tahun beliau tamat dan melanjutkan belajar kepada Syekh Abdul Hamid di Huta Pungkut. Syekh Abdul Hamid merupakan kerabatnya sendiri yang menamatkan pendidikannya di Mekkah. Pada tahun 1900, Syekh Musthafa berkesempatan melanjutkan pendidikannya ke Mekkah, Saudi Arabia.

Selama di Mekkah beliau berguru kepada ulama-ulama terkemuka, 10 orang di antaranya : Syekh Abdul Qodir Al-Mandily, Syekh Mukhtar Bagan, Syekh Ahmad Sumbawa, Syekh Salih Bafadil, Syekh Ali Maliki, Syekh Umar Bajuneid, Syekh Ahmad Khatib, Syekh Abdul Rahman, Syekh Umar Sato dan Syekh Muhammad Amin Madinah. Atas bimbingan para ulama terkemuka di atas ditambah kecerdasan Syekh Musthafa maka beliau dipercaya gurunya untuk menjadi pengajar di Masjidil Haram. Bidang ilmu utama yang ditekuninya adalah ilmu fikih.

Pada tahun 1912, Syekh Musthafa kembali ke kampung halamannya karena ayahnya meninggal dunia. Syekh Musthafa mulai mengajar dari masjid ke masjid di sekitar Tanobato. Kehadiran beliau dalam mengajarkan Islam di Tanobato mendapat sambutan yang baik dari masyarakat, apalagi beliau tetap berpegang teguh dalam mempertahankan Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja). Hal inilah yang memberikan pemikiran bagi beliau untuk membuat sebuah wadah dalam mengamalkan dan mengajarkan ilmu yang diperolehnya sampai ke Mekkah. Pada tanggal 12 Nopember 1912 beliaupun mendirikan Pondok Pesantren di Tanobato, Kayu Laut.

rumah gubuk untuk santri putra di musthafawiyah
Di tahun 1915 terjadi bencana banjir sangat besar yang menghanyutkan rumah-rumah penduduk di Tanobato sehingga tanggal 25 Nopember 1915 Syekh Musthafa hijrah ke Purba Baru. Seorang muridnya yang bernama Abdul Halim Lubis ikut hijrah dari Tanobato ke Purba Baru. Abdul Halim Lubis ini kelak menjadi menantu Syekh Musthafa yang bernama lengkap Syekh Abdul Halim Khatib. Hijrahnya Syekh Musthafa ke Purba Baru ternyata banyak berpengaruh pada perkembangan pesantrennya dengan menjadikannya Madrasah Musthafawiyah Purba Baru. Sejak saat itu Syekh Musthafa mendapat julukan sebagai Tuan Purba atau Tuan Natobang dan Syekh Abdul Halim mendapat julukan sebagai Tuan Naposo.

Di pesantren Purba Baru ini para santri tidak hanya mendapatkan pelajaran agama saja tetapi bidang-bidang lain yang nantinya bisa jadi bekal di masa yang akan datang. Para santri laki-laki diwajibkan tinggal di gubuk-gubuk kecil di sekitar pesantren yang mendidik agar para santri mampu hidup mandiri. Syekh Musthafa dikenal sebagai guru agama yang juga mengajarkan para santrinya untuk mampu menjadi pengusaha, pedagang dan petani yang baik dan sukses. Suasana pendidikan yang dikembangkan Syekh Musthafa di Purba Baru sangat menarik bagi masyarakat sekitar untuk mengirimkan anak-anaknya belajar di Musthafawiyah. Suasana pendidikan seperti itu masih dipertahankan sampai saat ini.

musthafawiyah tahun 1930an syekh ali hasan syekh abdul halim
Pada tahun 1928 para pemuda se-Indonesia mengumandangkan Sumpah Pemuda yang memberikan semangat ekstra bagi pergerakan melawan penjajahan. Semangat Sumpah Pemuda inipun menular sampai ke Tapanuli. Berbagai macam organisasi pergerakan masuk ke Tapanuli. Syekh Musthafa pun turut serta dalam pergerakan tersebut. Di tahun 1930an, Syekh Musthafa yang aktif dalam pergerakan juga membuka usaha pertanian dan pengolahan hasil tani sehingga pengelolaan Musthafawiyah banyak dipercayakan kepada Tuan Naposo dibantu oleh Syekh Ja’far Abdul Wahab gelar Tuan Mosir yang juga menantu Syekh Musthafa. Tercatat dalam periode ini Syekh Ali Hasan Ahmad Addary pernah mengabdikan diri turut mengajar di Musthafawiyah ini.

Di masa pergerakan ini banyak aliran-aliran Islam yang baru (Wahabi dan sejenisnya) turut masuk ke Tapanuli sehingga hal ini menjadi perhatian khusus Syekh Musthafa. Syekh Musthafa pernah menjadi Ketua Cabang Syarikat Islam. Masuknya Muhammadiyah ke Tapanuli Selatan di tahun 1930 ternyata banyak menimbulkan pertentangan di kalangan kaum tua sehingga lahirlah Persatuan Muslim Tapanuli (PMT) di Padangsidimpuan yang diprakarsai Syekh Musthafa. Terbentuknya Al-Washliyah tahun 1930 di Kota Medan tidak banyak membawa pengaruh terhadap perkembangan Islam di Tapanuli Selatan. Ketidakpuasan Syekh Musthafa terhadap organisasi dari Medan maka tahun 1939 Syekh Musthafa mendirikan Al Ittihadiyatul Islamiyah (AII) di Purba Baru untuk menyamakan kurikulum madrasah di Tapanuli Selatan demi mempertahankan ajaran Ahlussunnah Wal Jama’ah.

Setelah Indonesia merdeka di tahun 1945, Syekh Musthafa mengumpulkan para ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah se-Tapanuli (bagian) Selatan seperti Syekh Ali Hasan Ahmad, Syekh Baharuddin Thalib Lubis, Nuddin Lubis, dan lain-lain yang kebanyakan terhimpun dalam AII yang menghasilkan kata sepakat bahwa organisasi Nahdlatul Ulama (NU) yang paling sesuai dengan nafas ajaran Ahlussunnah Wal Jama’ah. Pada tanggal 9 Februari 1947, Nahdlatul Ulama (NU) Sumatera Utara resmi berdiri pertama kali di Padangsidimpuan, Tapanuli Selatan. Syekh Musthafa Husein terpilih menjadi Rais Syuriah pertama dan Syekh Baharuddin Thalib Lubis terpilih sebagai Ketua Tanfidziyah pertama. Pesantren Musthafawiyah Purba Baru menjadi pusat organisasi Nahdlatul Ulama (NU) di Sumatera Utara.

musthafawiyah purba baru masa kini mandailing natal
Sejak saat itu NU pun berkembang di Sumatera Utara khususnya di Tapanuli Selatan. Perkembangan NU ini membawa dampak positif bagi misi mempertahankan ajaran Ahlussunnah Wal Jama’ah di Tapanuli Selatan. Syekh Musthafa Husein adalah simbol bagi Nahdlatul Ulama (NU) di Sumatera Utara. Pesantren Musthafawiyah pun menancapkan namanya di bumi nusantara sebagai pusat perkembangan Nahdlatul Ulama di Sumatera Utara. Syekh Musthafa pun sempat menjadi A’wan Syuriyah PBNU periode 1954 – 1956. Di saat bersamaan NU berubah menjadi Partai Poltik memisahkan diri dari Masyumi dan pada Pemilu 1955 Syekh Musthafa ikut menjadi calon anggota Konstituante dan terpilih mewakili Partai NU.

Pada tanggal 16 Nopember 1955, Syekh Mustafa Husein Nasution menghembuskan nafas terakhir di Padangsidimpuan dan dimakamkan di Purba Baru. Sepeninggal Syekh Musthafa, Musthafawiyah dikelola dan dipimpin oleh putra tertuanya, H. Abdullah Musthafa Nasution. Saat ini Musthafawiyah dikelola dan dipimpin oleh cucu Syekh Musthafa yang bernama H. Musthafa Bakri Nasution.

Wassalam,
Riza Lubis