SYEKH H. ABDUL HALIM KHATIB : ULAMA WARA’ YANG IKHLAS MENDIDIK UMMAT

Syekh Abdul Halim dilahirkan pada tahun 1901 M di Mandailing. Beliau seorang bermarga Lubis. Ayah beliau bernama Ahmad Khatib Lubis yang dikenal sebagai orang yang taat dalam beragama Islam di desanya. Ketaatan beragama ini menurun kepada Syekh Abdul Halim yang sejak kecilnya sudah taat dan rajin melaksanakan kegiatan keagamaan terlebih lingkungan sekitarnya sangat mendukung dalam perkembangan anak-anak dalam beragama.

Pada tahun 1912, Syekh Abdul Halim menuntut ilmu di pesantren (cikal bakal Pondok Pesantren Mushtafawiyah Purba Baru) yang didirikan oleh Syekh Mushtafa Husein di Tano Bato. Beliau termasuk di jajaran murid-murid awal Syekh Mushtafa Husein. Kekonsistenan Syekh Mushtafa berpegang teguh mempertahankan Ahlussunnah Wal Jama’ah (Aswaja) ditularkan terhadap murid-muridnya termasuk kepada Syekh Abdul Halim.

Kerajinan dan keuletan Syekh Abdul Halim serta ditambah pengasuhan dan keberkatan Syekh Mushtafa dalam mengajarinya membuat Syekh Abdul Halim dengan cepat menguasai pelajaran-pelajarannya terutama bidang fikih. Pada tahun 1915, terjadi banjir besar di Tano Bato yang mengakibatkan Syekh Mushtafa harus hijrah ke Purba Baru (Mushtafawiyah), Syekh Abdul Halim pun dengan setia mengikuti gurunya tersebut.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Mushtafawiyah, Syekh Abdul Halim melanjutkan pendidikannya di Shalatiyah Makkah dan Masjidil Haram. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Syekh Abdul Halim untuk menimba ilmu agama lebih dalam kepada guru-guru besar di Makkah. Tersebutlah Syekh Sayyid Abbas (Marocco), Syakh Qadhi Hassan, Syekh Abduk Muhsin (Madinah), Syekh Abdul Qadir bin Sobir Al Mandili (Mandailing) dan Syekh Zakaria bin Abdullah Bila pernah menjadi guru-guru beliau. Syekh Zakaria selalu menyebut Syekh Abdul Halim sebagai seorang yang wara’.

Setelah selesai dari Makkah, Syekh Abdul Halim pun kembali ke kampung halaman dan tiba masa untuk mengabdikan diri bagi masyarakat di Mandailing. Beliau mengabdikan dirinya di Mushtafawiyah dan menjadi menantu Syekh Mushtafa Husein. Syekh Abdul Halim diberi gelar sebagai Tuan Naposo (Tuan Guru Muda)  disebabkab keilmuannya sangat dekat dengan gurunya sekaligus mertuanya, Syekh Mushtafa Husein yang bergelar Tuan Natobang (Tuan Guru Tua).

Syekh Abdul Halim menjadi tulang punggung pelaksanaan pendidikan di Mushtafawiyah bersama “pareban“nya Syekh Ja’far Abdul Wahab karena mertua mereka (Syekh Mushtafa) semakin aktif dalam pergerakan, usaha pertanian dan organisasi di luar Mushtafawiyah. Saat terbentuknya NU di Tapanuli Selatan (Sumatera Utara) pada tahun 1947, Syekh Abdul Halim juga termasuk dalam barisan tersebut bersama dengan Syekh Mushtafa, Syekh Ali Hasan Ahmad, Syekh Baharuddin Thalib dan Nuddin Lubis. Syekh Abdul Halim juga sempat menjadi Pengurus PBNU di tahun 1960an.

Syekh Abdul Halim diangkat menjadi Roisul Mu’allimin (Kepala Sekolah) di Mustafawiyah setelah Syekh Mushtafa meninggal dunia di tahun 1955. Mushtafawiyah merupakan tempat yang cocok bagi beliau untuk mengembangkan ilmunya dengan mendidik para santri dengan gigih dan ikhlas sampai beliau lanjut usia. Beliau jatuh sakit pada tahun 1980 sehingga tugas Roisul Mu’allimin diserahkan kepada Syekh Syamsuddin Al-Hafizh (gelar Tuan Jakarta).

Pada tanggal 21 Januari 1991, Syekh Abdul Halim meninggal dunia, tanah Mandailing kehilangan seorang figur ulama panutan yang menghabiskan umurnya untuk menyampaikan ilmu agama yang dimilikinya. Syekh Abdul Halim merupakan figur ulama Mandailing yang wara’ dan selalu ikhlas membaktikan dirinya kepada ummat. Beliau dimakamkan di pemakaman keluarga Purba Baru.

Wassalam,
Riza Lubis


2 thoughts on “SYEKH H. ABDUL HALIM KHATIB : ULAMA WARA’ YANG IKHLAS MENDIDIK UMMAT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *