PROF. H. AHMAD BAQI : MAESTRO GAMBUS DARI MEDAN

AHMAD BAQI, adalah anak bungsu 4 bersaudara dari pasangan H. Abdul Majid & Hj. Halimah. Lahir di Kampung Baru, Medan, 17 Juni 1921. Terlahir dari keluarga yang bukan seniman. Karena didikan ayah beliau, Ahmad Baqi ditempa untuk menjadi seorang Ulama. Semua itu dikarenakan Ayah Ahmad Baqi berlatar belakang seorang Guru Mengaji yang sangat terpandang dan disegani di daerah mereka menetap. Pada masa penjajahan Jepang tahun 1941 perang Asia Timur Raya, memupuskan keinginan Ahmad Baqi untuk melanjutkan pendidikannya di Universitas Al Azhar di Mesir.

Tuhan punya rencana lain bagi Ahmad Baqi, karena kegagalan melanjutkan cita-cita, tidak menghambat beliau untuk maju terus mengasah ilmu dengan membantu sang ayah mengajar mengaji. Ahmad Baqi cukup cerdas untuk mengetahui segala tingkat bacaan di Al Qur’an, seperti Tajwid, Hawa dan lain sebagainya. Hingga pada suatu hari beliau belajar menggesek biola secara autodidak, tanpa di dampingi oleh seorang guru musik. Berpedoman kepada Hawa Qur’an seperti : Rast, Soba, Sikkah, Hijaz, Bayati, Huzam dan lain sebagainya. Menjadikan sarana Ahmad Baqi untuk mengasah ilmu dan sekaligus menjadi guru biola yang sangat berharga untuk beliau pelajari.

Ahmad Baqi sangat gemar membaca roman picisan karangan Buya Hamka, seperti Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, Margaretha Guiter, Dibawah Lindungan Ka’bah, Laila Majnun dan judul-judul roman Buya Hamka yang lainnya. Demikian halnya Syauqi pujangga Mesir yang beliau kagumi dengan karya besarnya pun menjadi inspirator Ahmad Baqi yang haus akan pengetahuan. Ayah Ahmad Baqi yang keras dan fanatik tidak mengizinkan putranya untuk mempelajari musik, kendala kedua bagi diri beliau. Karena ayah Ahmad Baqi menganggap musik adalah hal yang tabu dan diharamkan. Suatu ketika beliau mengasah ilmu biolanya, tanpa disadari biola yang satu-satu guru Ahmad Baqi yang paling berharga dipatahkan oleh sang ayah. Ahmad Baqi berprinsip, dan tak mampu menentang pendapat sang ayah, beliau hanya berpedoman kepada fatwa yang dikutip dari Buya Hamka “Bahwa umat islam di Indonesia berkesenian itu halal, selama karya seni itu mengandung moral dan tidak mendatangkan kerusakan”.

Pada tahun 1947, Ahmad Baqi melamar di Perusahaan Listrik *** (P L N) yang dikelolah oleh orang Belanda. Disela waktu luang sebagai seorang pamong praja Ahmad Baqi pun tetap mengasah kecermatannya dalam menggesek biola, hingga bertemu dengan Wahab seorang guru musik hasil gemblengan orang Belanda. Sempurnalah ilmu beliau berguru pada lelaki yang lebih muda dari usia Ahmad Baqi dalam mempelajari not dan partiturnya. Dengan beberapa syair yang ditulis dan ia simpan, Ahmad Baqi mencoba menyempurnakan syair-syairnya kedalam sebuah lagu dan partitur not. Kesempurnaan itu terlahir dengan menelurkan “Teluk Berombak”. Menjadi karya ciptanya yang pertama, yang ia ciptakan di ranah kelahirannya Kampung Baru, Medan pada tgl 16 april 1952. Namun sangat disayangkan, lagu tersebut belum pernah dikeluarkan untuk dinyanyikan.

Ahmad Baqi menikah dengan seorang wanita yang berasal dari daerah Tapanuli. Ialah Dewiana Siregar putri dari Bapak H. Mustakim Siregar & Hj. Zakiah Lubis. Dari hasil pernikahannya Ahmad Baqi dikarunia 8 (delapan) orang anak. 5 (lima) laki-laki dan 3 (tiga) perempuan.

Pada tahun 1956, ahmad Baqi bergabung dengan Grup Mesir FUKAHA, yang dipimpin oleh Almarhum Bpk Mahmud Ibrahim. Perjalanan ini yang menghantarkan Ahmad Baqi untuk bertemu dengan Guru Besar dari Al Azhar dari Mesir dalam acara hiburan di Gubernuran Medan. Dialah Tuan Syech Profesor Mahmud Sjaltout, yang memberikan alat musik Gannun, alat musik petik yang menyerupai kecapai yang sangat khas Timur Tengah yang berdawai 78 senar.

El Surayya terbentuk pada tahun 1964 karena hasrat Ahmad Baqi, berkeinginan untuk memiliki sebuah wadah dimana beliau mampu memotori murid didikannya yang beranggotakan 25 (duapuluh lima) orang. Salah seorang murid wanita beliau kini telah berhasil ia tempah selama beberapa tahun. Namun sangat disayangkan, khusus untuk penyanyi perdana yang ia bina ini tiada bukti keterlibatan dalam rekaman kaset atau piringan hitam.

Pada tanggal 23 Februari s/d 30 Maret 1965, Tahun pertama Grup El Surayya mengisi acara di Hotel Panghegar, Bandung, Jawa Barat diacara Konferensi Asia-Afrika. Perjalanan perdana yang memakan waktu 1 bulan 7 hari menjadi suatu moment yang berkesan untuk Ahmad Baqi masa itu.

Kedatangan Atikah Rahman & Asmidar Darwis pada tahun 1967 menjadi semangat Ahmad Baqi dalam kepemimpinannya sebagai seorang leader untuk membina murid-muridnya yang disusul pula dengan tibanya Rukiah Zein dan Mohammad Taher.

Dari tahun 1952 hingga 1965, Ahmad Baqi telah menciptakan 40 buah lagu dan instrument. Diantaranya judul-judul tersebut adalah : Instr. El Ghuyyum, Balladi, Kecewa, Zikrayat, Fuadi, El Hamamah & Syauqi *** (terinspirasi karena kelahiran putra Ahmad Baqi yang ke-6). Lagu-lagu yang beliau ciptakan masa itu adalah : Pengembara,Nelayan, Derita, Pemuda Islam, Bunda, Ummi-Ummi, Pusara Kasih, Al ‘Ayyam, Dunia Bitigri dan lain sebagainya.

Bergemanya suara Atikah Rahman menyanyikan “Pusara Kasih”, Asmidar Darwis dengan “Pemuda Islam”, Moh. Taher dengan Nelayan, menjadikan perjalanan El Surayya semakin terkenal, dalam mengisi hiburan di pernikahan, syukuran dan acara hari besar Islam dikota Medan. Pada 18 juli 1968, Ahmad Baqi menciptakan lagu berjudul “Selimut Putih”. Lagu yang menggunakan “Hawa RAST” menambah indah lagu tersebut dan menjadikan “The Symbol of EL SURAYYA“.

Kejeniusan Ahmad Baqi, semakin tak terbendung. Sekembalinya dalam perjalanan beliau kedaerah Tanah Karo, Tiga Binanga tepatnya tahun 1967 beliau menciptakan lagu-lagu berjudul Beduk & Azan, Subhanallah, Cita-Cita, Kemarau, Pilihan Terakhir, Doa dan Airmata, Sadarlah, Madah Terakhir dan banyak lagi. Semua lagu tersebut ditarik suarakan oleh biduan dan biduanita. Dan seorang Rukiah Zein pun sudah mendapat tempat didalam Grup El Surayya.

Pada tanggal 19 september 1968, adalah rekaman perdana Piringan Hitam yang dipandu oleh J & B Interprise Jakarta dengan beberapa lagu yang bersyair Arab seperti : Al Ayyam, dsb.

Untuk instrument Pantai Kenangan, Mandili dan Khal El Habib, meramaikan karya cipta beliau hingga tahun 1970. Dengan memboyong anggota yang berjumlahkan 25 orang pada tanggal 30 april s/d 1 juni 1970, ke Khota Bahru, Kelantan. Menjadi undangan perdana El Surayya, yang diundang oleh Dato’ H. Mohammad Asri Bin H. Muda. Pada tahun inilah penganugerahan Gelar Honoris Causa diberikan Perdana Menteri Besar Kelantan kepada Ahmad Baqi. Gelar profesor pun ia sandang didepan nama beliau. Penghargaan yang sama juga diprakarsai H. Bahrum Jamil (pendiri Universitas Islam Sumatera Utara) diberikan beberapa saat kepulangan beliau dari perjalanan Khota Baru Kelantan. Sebagai komponis lagu-lagu nasyid pada masa itu.

Perjalanan kedua El Surayya, yang paling lama selama 4 bulan ke Kedah, diundang oleh salah seorang penggemar yaitu Sayed Hamzah & H. Mohammad, pada tanggal 12 februari s/d 15 juni 1971. Pada 21 februari s/d 21 maret 1972, El Surayya di undang kembali di Pesta Kedah selama 1 bulan, oleh H. Mohammad, orang yang pertama sekali mengundang El Surayya ke Kedah.

Perdana Menteri Sabah DR. Hj. Rahmat bin Ma’dom mengundang El Surayya 3 ½ bulan lamanya ke Malaysia Timur, Sabah. Perjalanan yang dimulai 26 mei 1972 dan berakhir dikota Kinabalu 4 september 1972, menjadi lawatan yang membanggakan, karena Ahmad Baqi berhasil menciptakan lagu KINABALU, dimana lagu tersebut disuarakan oleh Asmidar Darwis.

Kepulangan dari perjalanan yang ke 3 ini, pelantun “Pusara Kasih” Atikah Rahman dipinang oleh seorang pegawai instansi pemerintahan & pelantun “Nelayan” Mohammad Taher mendapat pekerjaan di Pertamina Pangkalan Brandan.

Masuklah Zulfan Effendi *** (sekarang pimpinan As Syabab). Yang berduet dengan salah seorang biduanita membawakan lagu “Mencari Bahagia”. Menyusul dengan hengkangnya si “Madah Terakhir” karena dipinang oleh seorang pemuda dan memboyong Rukiah Zein ke Malaysia.

Kecelakaan pesawat haji yang berisikan jema’ah haji Indonesia berasal dari Jawa Timur dan Kalimantan pada tanggal 12 Desember 1974 yang akan menunaikan ibadah haji, gugur dalam penerbangan pesawat Martin Air, kecelakaan yang mengenaskan disebabkan terbenturnya pesawat karena pendaratan darurat dan berakhir di tengah rimba Bukit Tujuh Perawan, Sri Langka. Karena jemaah haji tewas sebelum sampai ke tanah suci membuahkan “Panggilan Ka’bah” sebagai ungkapan doa sang Ahmad Baqi pada tgl 14 januai 1975.

1975 bertukarnya formasi El Surayya, dan menjalani show di Kepulauan Riau, seperti Sungai Pakning, Selat Panjang & Pekan Baru selama 1 bulan penuh. Sepulang dari perjalanan ini ahmad Baqi menciptakan lagu Bisikan Dunia, Mutiara Hidup dan Pahit-Pahit Manis.

 Pada tanggal 6 februari s/d 28 april 1976, Sulaiman Safri dari LS Interprise, Kuala Lumpur menawarkan rekaman kaset dan piringan hitam. Khusus untuk kaset ini adalah rekaman perdana di Malaysia. Di Kings Musical Industri (KMI) Kuala Lumpur. Bertepatan dalam perjalanan ini, terjadi pencekalan lagu “ SELIMUT PUTIH” oleh yang dipertuan agung Malaysia. Karena pada syair ke 3 ada lirik yang tidak mengena. Ini sebenarnya hanya misunderstanding bahasa saja. Tiada yang masalah lain dalam pencekalan tersebut. Tiap Negara sudah pasti berbeda tata bahasa dan asumsi penalaran dalam menuangkan syair dari segi kesustraan. Masa penundaanpun terjawab oleh waktu, terbekali sudah Ahmad Baqi dengan syair sebuah lagu yang berjudul “Pantai Suratan”. Dengan berakhirnya masalah pelarangan lagu “SELIMUT PUTIH”.

Pekerjaan sebagai Pegawai Negeri, diserahkan Ahmad Baqi sebagai Kepala Perbekalan PLN Sumatera Utara, Jabatan yang menggiurkan itu ia akhiri dengan pensiun dini pada tahun 1977 tanpa ada paksaan dari pihak manapun. Masih ada beberapa tahun lagi masa kerja berakhir. Semua itu beliau serahkan karena Panggilan Seni lebih mendominan pada Ahmad Baqi. Tahun 1977, El Surayya berkampanye dengan salah satu partai terkenal di Tapanuli selatan selama 1 bulan. Menyusul ditahun yang sama perjalanan ke Thailand & Malaysia, selama 1 bulan 10 hari. Terhitung akhir Agustus hingga 10 oktober.

Persatuan Pensiun Polis Diraja Malaysia, selama 2 bulan 15 hari mengundang El Surayya pada tanggal 25 agustus s/d 10 novemver 1979, oleh Hamzah Bin Pangaduan. Hidup Yang Hampa & Anak Berbudi menjadi lagu ciptaan pasca keberangkatan menunaikan ibadah haji Ahmad Baqi beserta Ibu bulan Juni 1981, khusus untuk rukun islam yang ke 5 ini murni dari tabungan mereka sendiri.

Selama 3 bulan perjalanan Malaysia yang terhitung dari tanggal 28 oktober 1982 s/d 26 januari 1983, Personel Manager South East Asia Hotel di Kuala Lumpur, yaitu Tuanku Azwil Bin Razak mengundang kembali El Surayya dalam acara yang diadakan di Hotel tersebut.

Di hari jadi ulang tahun Sultan Hassanal Bolkiah yang ke 37, pegawai kerajaan istana H. Awang Bin Damit mendatangkan El Surayya selama 2 minggu, suatu kebanggan yang tak terlupakan itu diawali pada tanggal 12 s/d 22 agustus 1983.

Seorang Ajudan Wapres pada tahun 1984, merekrut Ahmad Baqi & Sebagian Tim untuk hijrah ke Jakarta. Azzizan adalah Grup musik padang pasir Binaan Ahmad Baqi ini hanya bertahan 4 tahun saja. “Cintaku” & “Sebuah Nama” 2 buah karya cipta beliau yang sangat popular di Festival Nasyid inipun beliau ciptakan selama ada diperantauan.

2 tahun kepulangan beliau dari Jakarta membawa perubahan yang sangat melesukan di El Surayya, tepatnya tahun 1990. Musik Instant merajalela bagaikan jamur tumbuh dimusim hujan. Berbagai kritik dan saran pernah diajukan oleh seorang putra beliau. Namun sedikitpun Ahmad Baqi tidak tergiur untuk mengikuti perubahan yang dianggapnya merusak. Dalam acara Temu Mesra oleh pejabat tinggi Kota Kinabalu sebuah pinggat penghargaan tertinggi, dinobatkan kepada Profesor. H. Ahmad Baqi, ASDK, sebagai Seniman Dan Sastrawan terbaik antar bangsa pada tahun 1994. Menyusul pula Gubernur Sumatera Utara Raja Inal Siregar (Almarhum), memberikan penghargaan sebagai Seniman & Komponis Islam Terbaik Sumatera Utara.

1996 di undang oleh Pemko Batam & Desember 1998, perjalanan musik Ahmad Baqi yang terakhir ke Tapanuli Tengah Sibolga. Sepulang dari perjalanan ini suara Ahmad Baqi mulai serak perlahan menghilang.

Inna Lillahi Wa Inna Illahi Rojiun, tepatnya 2 hari dibulan Syawal 1421 H. (22 Januari 1999). Dikeheningan subuh, Ahmad Baqi mengakhiri sujud terakhirnya diatas sajadah pada pukul 2:30 wib dini hari di usia 78 tahun. Kepergian beliau mengejutkan seantero kota medan, 2 kemalangan yang beruntun sekaligus mengiringi kepergian anak tertua Ahmad Baqi, sepulang dari pemakaman.

Beberapa hari kepergian Ahmad Baqi, Pimpinan Orkes dihibahkan kepada seorang Putra Ahmad Baqi yaitu : “Ahmad Syauqi “. Sebulan kepergian Ahmad Baqi Departemen Agama Sumatera Utara mengadakan acara “Malam Kenangan” Ahmad Baqi di Hotel Garuda Plaza, Medan. Yang dihadiri tamu dari Negara jiran, Bapak Hanan Bin Awang dari Kota Kinabalu. Dan Wakil Gubernur Sumatera Utara. Begitulah seniman.

Jasa Terkenang, Bila jasad Telah Tiada………….
……. Pintaku wahai teman dikampung
Kehilanganku jangan ratapi
Bila mayatku hanyut terapung
Mohonku ombak bawa ketepi……
(Dikutip dari syair lagu Mohon & Doa Cipt. H. Ahmad Baqi)

Akhirnya “Selimut Putih” yang ayah syairkan…….ayah kenakan diperjalanan suci keharibaan Allah. Meskipun ayah “Tak Mungkin Kembali”. Kerinduan ananda terpahat indah di “Pusara Kasih“.“Cita-cita” mulia yang sempat tertunda. Akan ananda jawab “Di Suatu Masa.” Selamat Jalan Ayahanda…….. do’a ananda mendampingi selalu untuk selamanya………Amin.

Rekaman Piringan Hitam Ahmad Baqi :

1. JB Interprise Jakarta 19 September 1968
2. KMI Kuala Lumpur / Life 12 Januari 1971
3. MMI Malaysia 4 Juni 1971
4. MMI Malaysia 7 Juni 1972
5. RTM Kota Kinabalu 12 Juni 1972
6. RTM / Life 12 Juni 1974
7. RTM Malaysia 26 Februari 1976
8. King Musical Industri, M’sia 2 Maret 1976
9. RTM Malaysia 20 April 1976
10. RTM Kuala Lumpur & MMI 26 November 1982

Rekaman kaset Ahmad Baqi di Medan & Jakarta :

1. Doa dan Airmata (Vol 1) 14 Oktober 1974
2. Hawa dan Nafsu (Vol 2) 27 Maret 1975
3. Bisikan Dunia (Vol 3) 28 Maret 1975
4. Tak Mungkin Kembali (Vol 4) 3 Februari 1976
5. Madah Pusaka (Vol 5) 23 Februari 1976
6. Pantai Suratan (Vol 6) 21 September 1976
7. Hidup yang Kekal (Vol 7) 6 Oktober 1976
8. Harga Diri (Vol 8) 26 Mei 1977
9. Letak Bahagia (Vol 9) 28 Mei 1977
10. Usia dan Cita Cita (Vol 10) 1 Agustus 1978
11. Jangan Harapkan (Vol 11) 24 Agustus 1978
12. Tangkal Melangkah (Vol 12) 28 Agustus 1978
13. Nelayan (Vol 13) 1 September 1978
14. Walau Dimana (Vol 14) 22 Maret 1979
15. Seribu Kenangan (Vol 15) 23 April 1979
16. Jadda (Vol 16) 20 Agustus 1979
17. Pantai Narathiwat (Vol 17) 21 Agustus 1979
18. Meniti Batang (Vol 18) 23 Agustus 1979
19. Petuah Guru September 1991

Catatan :
Judul sengaja kami ubah menjadi “Prof. H. Ahmad Baqi : Maestro Gambus Dari Medan” semata-mata hanya untuk menegaskan siapa beliau ini, tidak ada maksud lain.


Salam,
Riza Lubis