MATANIARI (MATAHARI)

Willem Iskander banyak membuat puisi (sajak) dan prosa selama hidupnya. Puisi ataupun prosa karyanya bisa digolongkan atas beberapa tema yaitu Religius, Pendidikan, Kasih Sayang, Nasionalisme, Mawas Diri dan Keberanian. Puisi berjudul Mandailing salah satu puisi yang bertema Nasionalisme ataupun kecintaan terhadap tanah air.
Puisi Sikola, Ajar Ni Amangna Di Anakna Na Kehe Tu Sikola dan Di Danak Na Mompas Godang mengambil tema tentang Pendidikan dan Kasih Sayang. Berikut ini kami tampilkan puisi karya Willem Iskander yang berjudul “Mataniari” yang artinya “Matahari” dan dengan tema Religius. Dalam puisi ini jelas sekali ditegaskan oleh Willem Iskander bahwa Matahari sangat besar manfaatnya bagi kehidupan adalah karya Tuhan Yang Maha Kuasa.
Berikut ini adalah sajak lengkap dari puisi yang berjudul “Mataniari” tersebut :

Sude ni’da toreng
Bo di dolok, bo di rang
Dibaon mataniari
Ria roa niba
Dibaon pandadangina
Dohot singgar-singgar i

Muda i sumirlak-sirlak
Songon abong ni subang jontur
Lao manangkok lao mijur
Di diama i alak
Na so ra mamuji Debata
Di bagasan ate-atena

Muda ia bonom
Marrara marriri
Lao mamulus mamojom
Di si pe laing tarpaida
Pintar ni Debat
Na mambaen denggan ni singgar i

Sidumadangari
Simulmulan ni api
Na godang asayana
Milasnia ima
Pangolu sasudena
Patumbur saba dohot auma

Poda ahama ape
Dapot di’ba be
Na mamatai tompa ni i?
Binotoma dabo
Gogo ni Debatado
Mangadongkon i

O, Na Jopbasa!
Untung ni danak pe ape
Markasonangan muse
Hum sijat parangedo lakna
Na garang mambaen dosa
Na gumadobuk tarotokna

Ia, Na mambaen panaili ni langit
Dohot barang aha na manggulmit
Ima sombaonku
Ringgas au ra
Sapanjangna
Mamuji Tuhanku

Semua tampak terang
Baik di bukit maupun di lembah belukar
Karena matahari
Hati kita gembira
Karena pemanasannya
Dengan sinar itu

Jika is kilau kemilau
Bagai sayap kumbang jentur
Tatkala naik turun
Di manakah manusia
Yang tak mau memuji Tuhannya
Di dalam sanubarinya

Jika is terbenam
Merahnya sungguh merah
Sampai terbenam memejam
Saat itupun tampak
Kekuasaan Tuhan
Yang menciptakan kebaikan sinar itu

Matahari
Sumber api
Yang sangat besar manfaatnya
Panasnyalah
Menghidupkan segalanya
Menyuburkan sawah dan huma

Petuah apakah gerangan
Yang dapat difahami
Oleh yang memperhatikan wujudnya itu?
Tahulah kita
Kekuasaan Tuhanlah
Menciptakannya

O, Yang Maha Penyayang!
Nasib anak kiranya
Berbahagia pula
Hanya si jahat perangailah
Yang sering berbuat dosa
Yang tak tenteram jiwanya

Dia pencipta mata langit
Dan segala yang bergerak
Dialah yang kusembah
Rajin aku ikhlas
Selamanya
Memuji Tuhanku

Begitu kerdilnya manusia di hadapan Tuhan Yang Maha Segalanya. Luar biasa puisi Willem Iskander ini yang digambarkannya dengan mengagumi ciptaan Tuhan berarti mengagungkan Tuhan.

Sumber :
Buku “Sibulus-bulus Sirumbuk-rumbuk” karya Willem Iskander, Pengantar dan Terjemahan oleh Basyral Hamidy Harahap.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *