MAHASISWA NU MALAYSIA BAHAS ISLAM SONTOLOYO

Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Malaysia menyelenggarakan diskusi dwimingguan. Pada diskusi yang berlangsung di Masjid Sultan Ahmad Syah, Universiti Islam Antarbangsa, Kuala Lumpur tersebut mereka membahas “Islam Sontoloyo!” Diskusi yang diselenggarakan KMNU bersama ISFI (Islamic Studies for Indonesia) Selasa (25/11) tersebut mendaulat Haris Alfian, S.H sebagai narasumber. Sementara Ahmad Nubail yang akan menuntaskan pascasarjananya di ISTAC sebagai moderator.

“Mungkin tajuk diskusi kali ini agak merisaukan sebagian pemerhati Islamic studies disini. Mestinya judul Islam Sontoloyo ini bukanlah hal yang mengagetkan,” ujar Kang Haris, mahasiswa Pascasarjana Hukum di AIKOL Universiti Islam Antarbangsa, mengawali diskusi.

Menurutnya, term ini sudah ada, bahkan sebelum kita lahir. Sebab, tokoh yang kali pertama mengusung istilah ini adalah founding father Indonesia kita, Bung Karno, pada tahun 1940 di media Pandji Islam. Jadi, kekagetan dan kerisuaan itu timbul disebabkan bacaan kita masih belum banyak, terutama geliat pemikiran Islam era kemerdekaan dan sebelumnya.

Bung Karno, di mata narasumber, termasuk salah satu dari pemikir Islam terbaik yang pernah dimiliki bangsa ini. Pemikiran Islam yang didengungkan Bung Karno takkalah hebat dengan tokoh-tokoh Islam yang hidup semasanya, seperti Agus Salim, Wahid Hasyim, dan Moh. Natsir.
Pemikiran Islamnya yang tersebar dalam berbagai tulisan dan pidatonya seakan mengajak umat muslim sebagai mayoritas penduduk Indonesia untuk bergegas menyongsong kebangkitan kembali Islam dalam percaturan dunia.

Namun, sayangnya, ujar Kang Haris, fakta dan buah pemikiran Islam yang segar ini seakan kandas dalam arus sejarah Indonesia, dan kita hanya mengenang Bung Karno hanya sebagai simbol dan tokoh nasionalisme Indonesia semata. Kelalaian inilah yang meletupkan sang pemateri untuk bangkit dan mewacanakannya kembali agar generasi muda sekarang tak melupakan sejarah emas masa silamnya.

Setelah sejarah singkat Bung Karno dengan pemikiran Islam, Kang Haris mulai memaparkan arti secara harfiah frase Islam Sontoloyo dan faktor yang mendorong Bung Karno untuk menulisnya. Jika Islam sudah tak asing lagi bagi kita, yang kunci bahasanya adalah mendamaikan.
Sedangkan, secara bahasa, sontoloyo yang berasal dari Jawa berarti kekesalan yang dialami peternak bebek disaat kelabakan menggiringnya. Bisa juga diartikan sebagai suatu kekonyolan, asal-asalan.

Jadi, gabungan Islam Sontoloyo bisa kita maknai dengan pemahaman Islam yang asal-asalan, yang ditujukan Bung Karno untuk muslim yang mempraktikkan Islam sebatas kulitnya saja, tidak sampai isinya, hingga berani mengeksploitase serta memanipulasi agama berkedok nafsu dan kepentingan sendiri.

Para pelaku Islam Sontoloyo semacam ini, menurut Bung Karno, layaknya manusia yang bermain kucing-kucingan dengan Tuhannya. Bung Karno melihat umat Islam di masanya banyak terbelenggu fikih yang rigif, tak berdimensi spiritual, etis dan kontekstual.

Berangkat dari kesontoloyoan pemeluk agama, Bung Karno, menurut Kang Haris, sebenarnya ingin mendorong umat Muslim menuju Islam yang rasional, transformatif, berapi-api, dan biasa menyebutnya sebagai agama yang hidup. Dari sini, Kang Haris mulai mendemonstrasikan harapan Bung Karno dalam kehidupan kekinian.

“Bagaimana kondisi umat Muslim Indonesia saat ini? Masihkah sontoloyo sebagaimana digambarkan Bung Karno puluhan tahun belakang? Menurut pribadi saya, masih! Malah justru sekarang makin parah dengan adanya Sontoloyo Internasional seperti Islam versi ISIS (Islamic State for Iraq and Syuria) yang begitu haus darah, wanita, dan kekuasaan,” ungkapnya.

Lebih-lebih ketika masih banyak para pejabat kita yang sudah haji berkali-kali, tapi tetap asyik masyuk melakukan korupsi, kolusi, nepotisme, dan bahkan merampas hak-hak rakyat cilik sebagaimana guru cabul, yang melatarbelakangi Islam Sontoloyo versi Bung Karno, yang merampas masa depan murid-murid perempuannya.

“Mereka mengira Islam hanya sebatas formalisme dalam ritual ibadah semata, bukan lagi agama dinamis yang hidup sebagai pembawa kedamaian antar sesama,” pungkasnya. (Red: Abdullah Alawi)

Sumber : NU Online


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *