H. ADAM MALIK BATUBARA : PEDAGANG, WARTAWAN, DIPLOMAT, POLITIKUS DAN WAKIL PRESIDEN

Adam Malik Batubara lahir pada tanggal 22 Juli 1917 di Pematang Siantar, Sumatera Utara. Adam dilahirkan di sebuah rumah dua tingkat (ruko) di Kedai Panjang (Jl. Pasar No. 48) Pematang Siantar. Ayahnya bernama H. Abdul Malik Batubara dan ibunya bernama Hj. Siti Salamah Lubis. H. Abdul Malik yang berasal dari Huta Pungkut, Kotanopan, Mandailing Natal adalah seorang pedagang sukses di Siantar yang taat beragama dan dalam kondisi inilah Adam Malik dibesarkan orangtuanya. Di masa kecil Adam Malik sempat mengecap pendidikan HIS sampai dengan kelas lima dan kemudian berhenti sekolah. Walaupun berhenti sekolah, minat Adam pada buku tidak berkurang. Adam Malik memiliki hobby membaca buku, main bola dan menonton film namun tidak melupakan tugasnya membantu orang tua berjualan / menjaga toko.

Pada tahun 1930, Adam Malik melanjutkan pendidikannya ke Thawalib Parabek di Bukit Tinggi. Selama satu setengah tahun Adam Malik mengecap pendidikan agama di Parabek ini. Kemudian Adam Malik melanjutkan berguru ke Basilam, Tanjung Pura, tempat pendidikan agama Islam terkenal saat itu. Tidak lama kemudian Adam Malik kembali ke Siantar dan tiada lagi pendidikan formal yang diikutinya.

Adam Malik menyapu jalan di depan penjara Padangsidimpuan
Dengan bekal ilmu dagang, pendidikan agama dan pemikiran tokoh perjuangan seperti HR Rasuna Said dan Tan Malaka, Adam Malik merambah dunia politik perjuangan dengan masuk Partindo (Partai Indonesia). Adam Malik yang masih berusia 17 tahun dengan berani dan berapi-api berpidato tentang perjuangan kemerdekaan di hadapan pimpinan Partindo Sipirok, Tapanuli Selatan. Akibatnya Adam Malik dijebloskan ke penjara oleh pemerintah Belanda selama dua bulan di Padangsidimpuan. Setelah keluar Adam Malik tidak surut untuk menentang penjajah dan akhirnya memutuskan hijrah ke Batavia (Jakarta) di tahun 1935. Di Batavia Adam Malik merasa lebih bebas ikut dalam perjuangan melawan penjajah Belanda. Pada tahun 1937, Adam Malik bersama-sama dengan Sumanang, Pandu Kartawiguna dan AM Sipahutar mendirikan Kantor Berita Nasional “Antarasebagai media perjuangan bagi bangsa Indonesia.

Berita duka datang di tahun 1941 di mana ayahanda Adam Malik meninggal dunia di Siantar. Setahun kemudian Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang dan di zaman pendudukan Jepang ini Adam Malik meneruskan karirnya sebagai wartawan di Kantor Berita Jepang, Domei. Tak lama kemudian Adam Malik menikah dengan gadis keturunan Minang bernama Nelly.

Adam Malik memimpin Kantor Berita Antara
Menjelang kemerdekaan Adam Malik merupakan barisan pemuda kelompok Sukarni yang ingin secepat-cepatnya agar kemerdekaan Indonesia diproklamirkan. Kelompok Sukarni yang bekerjasama dengan kelompok Chaerul Saleh memaksa Soekarno – Hatta untuk segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia sehingga terjadilah peristiwa Rengas Dengklok pada 16 Agustus 1945. Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pun berkumandang dari Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta pada 17 Agustus 1945 yang dibacakan oleh Soekarno – Hatta. Kantor Berita Antara yang dipimpin Adam Malik memberitakan proklamasi ini ke dunia internasional.

Setelah kemerdekaan Adam Malik aktif dalam Komite Van Aksi dan menjadi Ketua II KNIP. Di tahun 1948 Adam Malik turut mendirikan Partai Murba bentukan Tan Malaka dan menjadi anggotanya. Akibatnya Adam Malik menghadapi ancaman dari munculnya gerakan Komunis di Indonesia. Adam Malik anti komunis dan Adam Malik adalah musuh PKI dan dengan berbagai cara PKI ingin menghancurkan karir Adam Malik.

Adam Malik dalam rapat KNIP
Melalui pemilu 1955, Adam Malik terpilih menjadi anggota parlemen dari Partai Murba. Adam Malik diangkat menjadi Duta Besar untuk Rusia dan Polandia di tahun 1959 yang dianggap sebagai keberhasilan PKI menyingkirkan Adam Malik dari kancah poltik di Indonesia. Bagi Adam Malik ini adalah kesempatan mengasah kemampuan diplomasinya di dunia internasional.Adam Malik kembali ke Indonesia di tahun 1962 dan diangkat menjadi anggota Dewan Pengawas LKBN Antara yang didirikannya di tahun 1937 yang lalu. Pada tanggal 13 Nopember 1963 Bung Karno mengangkat Adam Malik menjadi Menteri Perdagangan sekaligus menjadi Wakil Panglima Komando Tertinggi Operasi Ekonomi (KOTOE). PKI semakin gencar menyudutkan Adam Malik melaui isu ekonomi.

Adam Malik kemudian diangkat menjadi Menteri Koordinator Ekonomi di tahun 1965. Setelah pemberontakan Gestapu PKI timbullah Supersemar pada 11 Maret 1966 yang membawa Indonesia menuju Orde Baru. Tercatat tanggal 18 Maret 1966, Adam Malik diangkat oleh Presiden Soekarno menjadi Menteri Luar Negeri. Jabatan Menteri Luar Negeri ini dijabat Adam Malik selama 11 tahun sampai dengan tahun 1977.

Adam Malik bersama lima Menlu mendirikan ASEAN di Bangkok
Adam Malik menjadi delegasi Indonesia dalam pertemuan Menteri Luar Negeri dari lima negara – Indonesia, Malaysia, Singapura, Philipina dan Thailand – di Bangkok, Thailand pada tahun 1967. Adam Malik (Indonesia), Tun Abdul Razak (Malaysia), S. Rajaratnam (Singapura), Narsisco Ramos (Philipina) dan Thanat Koman (Thailand) menghasilkan Deklarasi Bangkok dan melahirkan ASEAN pada 8 Agustus 1967. Kepiawaian Adam Malik sebagai diplomat berlanjut di tahun 1971 ketika Adam Malik terpilih menjadi Ketua Sidang Majelis Umum PBB untuk menentukan status keanggotaan China di PBB.

Setelah Indonesia memasuki Orde Baru, Adam Malik aktif berpolitik dalam Golongan Karya (Golkar). Di tahun 1977 Adam Malik terpilih menjadi Ketua MPR/DPR RI. Dalam Sidang Umum MPR di bulan Maret 1978, Adam Malik terpilih menjadi Wakil Presiden RI periode 1978 – 1983 mendampingi Presiden Soeharto.

Adam Malik menjadi Wakil Presiden RI ketiga
Pada tanggal 5 September 1984, Adam Malik menhembuskan nafas terakhirnya di Bandung dan dikebumikan di TMP Kalibata, Jakarta. Indonesia kehilangan seorang putra terbaiknya. Tempaan orangtua dalam berdagang, pendidikan agama di Bukit Tinggi dan Tanjung Pura, pemikiran Tan Malaka dan Kantor Berita Antara menjadikan Adam Malik seorang pedagang sukses, wartawan handal dan diplomat sekaligus politikus ulung yang mengantarkannya ke kursi Wakil Presiden RI ketiga. Jika saat ini banyak yang membicarakan Menteri Susi Pudjiastuti yang hanya tamat SMP, seorang Adam Malik yang bahkan tidak tamat sekolah apapun ternyata mampu menjadi Wakil Presiden RI ketiga. Semoga Bapak H. Adam Malik Batubara tenang dalam istirahat panjangnya. Amin.


Salam,
Riza Lubis


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *