AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH

Secara Etimologi, Ahlussunnah Wal Jama’ah terdiri dari kata : Al-Ahl, As-Sunnah dan Al-Jama’ah. Al-Ahl bisa berarti penganut, pengikut atau pelaku. As-Sunnah adalah sunnah Nabi Muhammad saw, As-Sunnah terbagi dua yaitu Sunnatullah dan Sunnaturrasul. Al-Jama’ah artinya berjama’ah yaitu berjama’ah mengikuti ajaran Rasulullah dan sahabat-sahabat Rasulullah.

Ahlussunnah Wal Jama’ah adalah kaum yang menganut/mengikuti ajaran Allah swt dan ajaran Rasulullah saw serta mengikuti faham dan ajaran para sahabat-sahabat Rasulullah saw.

Secara spesifik lagi kaum Ahlussunnah Wal Jama’ah adalah orang-orang (golongan) yang mengikuti ajaran Allah swt dan Rasulullah disertai faham ketauhidan seperti yang disusun oleh Imam Abul Hasan Ali Asy’ari dan Abu Mansur Al Maturidi. Di bidang fiqih berpegang pada dasar hukum yang empat yaitu Al-Qur’an, Al-Hadis, Ijma’ dan Qiyas. serta mengakui mazhab yang empat yaitu Hanafi, Maliki, Hambali dan Syafi’i. Inilah yang menjadi dasar pengambilan hukum serta pegangan bagi kaum Ahlussunnah Wal Jama’ah. Nahdlatul Ulama termasuk di dalamnya.

KH. Abdurrahman Wahid atau yang akrab dipanggil Gus Dur pernah memberikan keterangan bahwa yang termasuk Ahlussunnah Wal Jama’ah adalah “mereka yang mengikuti salah satu mazhab fiqih yang empat dan mengikuti Asy’ariyah dan Maturidiyah dalam ajaran tentang ketuhanan (tauhid).

Nabi Muhammad saw bersabda yang artinya :
Demi Tuhan yang memegang jiwa Muhammad, akan berpecah belah ummatku sebanyak 73 firqah, yang satu masuk sorga dan yang lain masuk neraka. Bertanya para sahabat : ‘Siapakah firqah yang tidak masuk neraka itu, Ya Rasulullah?’ Nabi menjawab : ‘Ahlussunnah Wal Jama’ah’ (Riwayat Thabrani)

Di masa Rasulullah saw, Khalifah Abu Bakar dan Khalifah Umar bin Khattab seluruh ummat Islam hidup bersatu padu dan tiada perbedaan interpretasi mengenai agama Islam baik mengenai amaliyah maupun aqidah. Hal ini wajar saja karena mereka adalah generasi yang paling dekat dengan Rasulullah saw. Jika ada yang belum jelas maka mereka akan tanyakan langsung kepada Rasulullah.

Firqah-firqah dalam Islam mulai muncul ketika Abdullah bin Saba (seorang pendeta Yahudi yang masuk Islam dan sakit hati kepada Usman) membunuh Khalifah Usman bin Affan. Setelah Usman terbunuh kaum muslimin sepakat mengangkat Ali bin Abi Thalib sebagai Khalifah. Di masa Khalifah Ali ini dengan nyata ummat Islam saat itu terbagi dalam 4 firqah.

Adapun firqah-firqah tersebut terdiri dari :

  1. Golongan Syiah dan Ahlussunnah di Madinah yang mendukung pengangkatan Ali bin Abi Thalib sebagai Khalifah.
  2. Golongan Mu’awiyah (Gubernur Damaskus) yang tidak mengakui Ali bin Abi Thalib sebagai Khalifah karena menurut mereka Ali iku bertanggung jawab. Golongan ini mengangkat Mu’awiyah bin Abi Sufyan sebagai Khalifah yang baru dan memindahkan pusat pemerintahan dari Madinah ke Damaskus. Inilah cikal-bakal pemerintahan Khilafah Bani Umayyah yang terkenal itu.
  3. Golongan Siti ‘Aisyah r.a. (ummul mukminin) yang juga tidak mengakui Ali bin Abi Thalib sebagai Khalifah namun golongan ini tidak menyalahkan Ali bin Abi Thalib dalam kasus terbunuhnya Usman bin Affan oleh Abdullah bin Saba.
  4. Golongan yang dikepalai Abdullah bin Umar (putra Umar bin Khattab) yang tidak ikut-ikutan dalam perselisihan tentang Khalifah. Golongan ini lebih suka menjauhkan diri dari pecaturan politik di masa itu.
Firqah-firqah inilah yang merupakan awal dari perpecahan yang terjadi dalam ummat Islam. Apalagi setelah terbunuhnya Ali bin Abi Thalib perpecahan dan perang saudara sesama umat Islam semakin menjadi-jadi. Berbagai macam golongan pun timbul saat itu. (Timbulnya golongan-golongan ini akan kami bahas di lain waktu). Pada akhirnya di antara golongan yang empat ini hanya Syiah dan Ahlussunnah yang masih ada sampai sekarang.

Bagi seluruh generasi muda Islam, saya berpesan agar semua permasalahan harus kita tanggapi dengan positif dan kita harus mencari jalan keluarnya. Ahlussunnah Wal Jama’ah sudah demikian berkembang apalagi di Indonesia melalui organisasi Nahdlatul Ulama yang merupakan organisasi massa terbesar di Indonesia.

Salam,
Riza Lubis


One thought on “AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *